Tampilkan postingan dengan label Guest. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guest. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Januari 2011

A letter Story to You (By. GaluraGee)

Satu tahun lebih, hampir dua tahun bahkan semuanya terjalin. Tapi kenapa, kenapa dia nggak pernah mengerti. Mengerti apa yang aku butuhkan, seperti yang mungkin kamu ketahui. Mungkin kamu juga tahu, karena sempat merasakan hal yang sama. Mungkin karena kita sama-sama merasakan hal yang sama, sungguh menyenangkan untuk kita saling berbagi. Berbagi apa yang buruk dan menggantikannya dengan berbagai kesenangan untuk mengobati diri. Dan bahkan langkah ini terlalu besar, menyerap waktu hingga mulai teralihkan dari mereka. Mungkin aku menganggapnya sebagai suatu kesenangan, kegembiraan ketika tanpa adanya perhatiannya. Tapi yang aku rasa, kamu menganggapnya terlalu serius, dan terlalu larut. Berbagai kata terangkai kalimat yang aku rasa agak berlebihan, tapi jujur terasa memerah pipi ini membaca semuanya. Senang.

Sampai hari itu, saat kamu menceritakan tentangnya, tentang kekurangan dan masalah kalian. Deg. Aku merasa jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Aku merasakan, kalau kamu itu dia, dan dia berbicara seperti itu, menceritakan berbagai kekuranganku, berbagai permasalahan, dan seolah semua masalah itu muncul dari aku seorang. Itu perih. Sakit sekali membayangkan dia melakukan hal yang sama seperti kamu. Atau mungkin melakukan hal yang sama, seperti yang kita lakukan. Atau bahkan mungkin jauh lebih parah lagi, dalam menggunakan perasaan. Meski mungkin aku, tidak menggunakan itu. ‘What comes around goes around’ itu sangat menampar. Apa yang pernah kamu lakukan, mungkin kembali sama kamu, mungkin lebih kecil, mungkin sama, mungkin juga jauh lebih besar. Takut? Ya. Hilang semua kesenangan sesaat itu, semuanya mungkin hanya akan menjadi malapetaka kemudian. Lebih-lebih lagi tersadar, meski mungkin bukan untuk maupun dengan perasaan, hal tersebut pasti melukai mereka. Mencari tempat berlari. Merasa jadi yang tersakiti, merasa jadi yang paling merana. Padahal tanpa sadar malah menjadi monster yang mengerikan.

Mulai melakukan perubahan. Tapi semua akan sulit jika hanya aku sendiri. Begitupun kamu juga harus melakukan itu. Bukan hanya ketika dengan aku, tapi jangan sampai jatuh ke lubang yang sama. Mereka terlalu berharga. Kalaupun harus berpisah, biarlah mereka yang menebang pohon itu, segalanya akan jauh lebih indah di kemudian hari bila kita jadi pihak yang merana secara nyata, bukan yang dibuat, bukan hanya karena merasa. Mungkin kamu juga sadar dengan perubahan itu, tapi tetap menolak. Masih merasa benar. Mungkin dari saat itu, hingga detik ini, aku adalah sebuah makhluk hipokrit yang berlari-lari di pikiranmu, dan mengesalkan, secara kasar biar kusingkat ‘munafik’. Aku tak peduli saat itu, mungkin pikiran buruk tentang aku yang akan terekam di memori kamu. Asalkan berhenti, asalkan pribadi menyadari betapa berharganya mutiara di sisi, yang selalu setia, meski mungkin hitam, mungkin kusam, tapi black pearl sungguhlah sesuatu yang langka dan berharga, terlebih lagi mungkin itu tulus dan murni. Sadarkah? Aku tidak tahu. Tapi setiap kata-kata yang kamu buat, masihlah mengenai sesuatu yang mungkin terjadi diantara kita. Cukup. Aku terganggu. Berhentilah. Aku berusaha untuk aku, dan semoga saja kamu juga bisa memahami apa yang aku rasakan. Perih untuk tahu, dia milikmu yang kini mungkin mengutuki aku, padahal kesan baik dulu terekam di memorinya. Perih untuk tahu, semakin sulit bagiku untuk memiliki teman yang baik, tanpa takut terbersit hal yang tidak diinginkan. Tapi, aku tak peduli. Aku tahu apa yang mungkin kamu rasa, meski jujur aku tidak merasakannya. Cukuplah aku yang lakukan. Berhenti disini.

Aku ingat, saat itu kemudian kamu memaksa melakukan sesuatu untuk aku, yang bahkan ketika aku meminta dia milikku, dia enggan melakukannya. Itu sakit. Itu perih. Saat itu aku menangis. Sungguh aku menangis. Kamu tahu itu sakit, saat orang yang diharapkan tidak bisa, kenapa harus orang lain? Aku tahu disitu, kamu belum benar-benar berhenti. Sampai pada akhirnya aku bertanya ‘Salahkah memiliki perasaan untuk yang lain, sedangkan kita sedang dimiliki?’, aku masih ingat kamu menjawab ‘Tidak, itu sesuatu yang tidak mungkin dipungkiri.’. Lalu aku mulai menceritakan lelaki itu. Yang diakui memang banyak lebihnya. Banyak yang terpikat. Dan aku mulai bermain api disitu, mencoba mengepul-ngepulkan asap tebal supaya kamu percaya, memang tidak pernah ada perasaan itu, dan semuanya harus berhenti disini. Mungkin terdengar ingin menang sendiri. Dan jauh lebih menyakitkan lagi, bukan hanya kamu dan aku ternyata. Seluruh lingkungan di sekitarmu pun ikut berhenti. Sungguhlah, demi apapun di dunia ini, semua hal itu benar-benar menyakitkan. Kehilangan teman, kehilangan galaksiku sendiri.

Saat masih kecil, aku terbiasa bermain dengan lawan jenis. Aku jauh lebih nyaman bermain dengan lawan jenis. Mereka seru, fleksibel dan tidak terlalu merepotkan berbagai hal yang tidak penting, mereka tidak akan menghukummu dengan tatapan tajam ketika kamu menggunakan kaos oblong butut, mereka juga tidak akan menceramahimu tentang apa yang kamu suka sedang mereka tidak, mereka tidak akan berbisik-bisik di belakangmu ketika mungkin pakaian yang kamu pakai mungkin terlalu berlebihan. Tapi satu kenyataan, sedikit sekali persahabatan antara lelaki dan wanita yang mungkin murni, tanpa ada perasaan. Dan semuanya bisa porak-poranda ketika perasaan itu muncul. Satu-satunya yang paling indah, ketika memang perasaan itu tidak mungkin, persahabatan mungkin akan terjalin sangat kental.

Cukuplah cerita itu sampai disini. Berbahagialah semuanya. Cukuplah semua perih, berhenti disini. Sebuah akhir menyenangkan dan cerita mereka pun bahagia selamanya. Aku dengan dia milikku, kamu dengan dia milikmu. Masing-masing. Semoga mungkin masih ada memori baik tentangku yang terekam di pikiranmu. Cukuplah semua, asal yang tidak seharusnya telah berhenti.

Salam,

AdiraBella

Kamis, 30 Desember 2010

CHAPTER 1

Udara pagi ini terasa begitu bersahabat.tak biasanya aku tak merasa hawa dingin yang biasa menggiring dan tetap menjagaku berada di tempat tidur.Pagi ini terasa begitu bertenaga.Pagi ini adalah hari pertama di semester III kuliah ku. “wah,ngga kerasa banget ya,udah setahun ngejalanin kuliah”ujar ku dalam hati.Setelah kurang lebih dua bulan tidak pernah kuliah gara-gara malas untuk memperbaiki nilai-nilai Charlie yang ku ukir di dua semester sebelumnya,mungkin hari ini bisa di sebut awal untuk kembali ke dunia dimana seharusnya berada dan berjuang,yaitu dunia perkuliahan.Hari ini adalah hari ke Sembilan di bulan ramadhan dan bertepatan dengan ultah teman baik ku yang sering ku panggil nura.kado pun telah kusiapkan untuknya,di hari spesialnya.meskipun,dengan tergesa-gesa menyiapkannya.Rencananya ku akan memberinya sebuah buku yang ku beli di bip sebelumnya bersama Kalila.siapa kalila itu?.Hmmm. . . ntar deh bakal di jelasin.

Setelah hampir dua minggu pergi kemana-mana ditemani oleh motor warisan bapa,Badan ku masih terasa kaku bila ada di jalan raya.apalagi kalau dah ngeliat polisi sedang bertugas.Di kepalaku langsung terbayang sebuah pertanyaan,”apa hari ini polisi tersebut sedang mencari tambahan penghasilan untuk makan dari kesalahan sistematis yang dilakukan para pegguna jalan termasuk aku?”.begitulah gambaran yang ada di benak ku kepada polisi yang bertugas di jalan raya.tapii,aku bukan lagi termasuk pengguna jalan santapan polisi-polisi yang begitu karena SIM ku sedang dalam proses dan dikelola oleh oknum-oknum polisi yang berbaik hati melayani urusan shooting SIM.hehehe

Persiapan udah matang,aku pun dah nyampe di depan rumah nurha.tiba-tiba ada pertanyaan bodoh yang menhampiri,”ehh rumah nya tuh yang mana?,perasan dulu tuh ga ada rumah gedong warna ungu disini?”.emang terakhir ku kerumahnya tuh zaman-zaman masih SMA dulu.betapa bodoh nya,niatnya mo ngasih surprise malah bingung sendiri.tapi,ga apa-apa dehh,yang penting ini kado mesti nyampe ke tangan dia sekarang!.(semangat bung!!)

sebenernya hati tuh dadigdug ga karuan soalnya mo ngomong apa ntar pas orangnya dah ada di depan mata?.tapi,apa daya nasi udah menjadi bubur ayam yang ga pake kacang dan sambel dengan kecap ekstra plus telur rebus.(maaf aga alay coz itu tuh type bubur ayam favorit ane).>.<.Kembali ke crita,akhirnya ku tlp dia,tapi, tindakan menelepon tuh malah bikin keadaan hati jadi dagdigdug kuadrat coz entah mengapa dan bagaimana,tlp tuh ga nyambung-nyambung aja padahal pulsa udah lebih dari cukup(padahal pas di cek tuh cman 1000-an lg lahh..hehehe).huuhh,dasar operator rese.tau aja cara bikin suasana jadi kacau.setelah cukup lama cman dengerin bunyi tuut..tuut..tuut.. dari hape yang kagak nyambung-nyambung terus + geje diem di dpan rumah si nura.rintangan pun datang tanpa konfirmasi,Pas liat jam di hape ku yang keyboard non-qwerty,gaul dan mahal(nokia 2300..hehehe)pada zamannya tuh dah menunjukkan pukul 07.00wib(artinya tuh 50 menit lg kuliah sedangkan titik koordinat dimana saya berada kala itu jauh sekali dari nangor city,tempat ku menimba ilmu.

eiiitsss,kembali ke cerita lagi,daripada terus tlp tanpa ada pengertian operator untuk menyambungkannya dan diem di depan rumah orang kayak maling ngecek situasi di pagi hari dan nantinya beraksi di malam hari, akhirnya ku buat satu keputusan,”ini telepon terakhir,nyambung atau ngga nya mah kumaha gusti nu agung!!”.Ibarat detik-detik injury time pertandingan final piala dunia 2022 antara Indonesia melawan brazil(Amieen..moga2 aja PSSI bisa mewujudkan khayalan ku ini) dengan kedudukan sementara 2-2 dan Indonesia mendapatkan kesempatan terakhir untuk mencetak gol melalui sebuah skema tendangan sudut.lalu,tendangan sudut pun dilakukan,terus ku pencet tombol “call” di hape,kemudian ada seorang pemain Indonesia dalam keadaan bersiap untuk melakukan gerakan salto,tapi gagal.aku pun masih mendengarkan kesunyian tanpa nada tunggu.Namun,apa yang terjadi sodara-sodara,Kiper Indonesia ikut membantu serangan dan nada tunggu pun mulai terdengar,dengan sigap kiper itu pun mencuri bola yang gagal disalto tersebut lalu melepaskan tendangan pasti ke arah sudut gawang yang tak bisa di jangkau oleh kiper lawan.Akhirnya bola pun menggetarkan gawang lalu bersamaan dengan itu terdengar seseorang menerima tlp dan suara ASSLAMU’ALAIKUM terdengar menyambut menghentikan bunyi nada tunggu.Alhamdulillah,akhirnya teleponnya nyambung juga…

beberapa saat kemudian,nura pun kluar dari rumah gedong berwarna ungu itu.ternyata ruamhnya direnovasi bung.tanpa basa-basi,kadonya langsung ku serahkan(padahal mah bingung mo ngomong apa).lalu ku cepat-cepat pamit dan pergi ke nagor city..

~kiwi